Sudah lama tidak nulis di sini. Bukan.. bukan karena lupa. Mungkin sedikit sibuk.. tapi alasan utamanya adalah karena memang tidak ada yg menarik untuk ditulis. Hanya kegiatan2 seputar pekerjaan, usaha untuk diet dan olah raga, dan game online.
Iya, akhir2 ini aku sedang memang kecanduan main game online, Restaurant City. Sebenarnya sudah lama aku main game ini. Sudah 2 tahun-an. Tapi dulu ya sekedar main saja. Akhir2 ini kok RC jd lebih assik, banyak tantangannya, malah sempat panik gara2 cari bahan2 buat resep yg limited. Wah, seru banget deh!
Nah, salah satu prinsip di RC adalah saling bantu antar tetangga, yaitu teman yg juga main RC. Jadi, aku yg tadinya stricth tidak akan add orang yg tidak kukenal di FB, akhirnya punya banyak teman game yg totally stranger. Sebenarnya sebelum ‘gila’ ini pun aku sudah punya 1 teman RC (inisial N). Dia satu2nya orang asing yg jadi temanku. Kenapa? Karena aku kagum banget sama keahliannya mendesain layout restoran-nya. Bener2 WOW! Dan dia termasuk senior di RC, waktu aku add dia tuh levelku masih 60an sementara dia sudah top level. Dan aku cukup beruntung lho, dia mau terima aku jd teman, sebab beberapa bulan kemudian teman2ku add dia tidak ditanggapi
Sepertinya teman RC dia sudah terlalu banyak. memang kalau teman terlalu banyak loading game-nya jadi lambaaaaat.

Anyway, berawal dari komentar “wow”, “fantastic”, “wonderfull” di tiap foto desain RC-nya, kami berteman. Ternyata si N ini baik banget orangnya. Dia tidak segan bagi2 ilmu tentang cara desain. Lalu, entah bagaimana, aku, N, dan seorang temanku cewek (M) sering saling timpal komen di FB. Kalau sudah “bertemu” entah di status, foto, atau link, kami bisa assik sendiri.. chatting yg ngayal2 gitu. Kadang2 kasian juga sama orang2 lain yg komentar di awal, sudah di-cuekin, masih kena spam obrolan kita pula. Suatu hari, obrolan mulai berkembang ke resep. Ternyata si N tuh pinter masak. Dia bagi2 resep masakan asal negaranya ke M dan aku. Kemudian bagi resep scrambled egg dan egg roll. Yah, karena aku doyan telur, aku coba resepnya. Ternyata emang enak.
Tidak disangka, ada teman kantor yg memperhatikan obrolan kami. Terus dia mulai becandain aku pas di kantor, pas waktu itu aku baru nyoba resep scrambled egg. Dia dan teman kantorku yg lain mulai jodoh2in aku dengan N. Well, berhubung si N jauh di sana, dia tidak tahu sih. Nah, karena aku memang tidak ada perasaan apapun ke N, ya aku tenang2 saja, malah semakin mengobarkan api becandaan itu.
Singkat kata, mungkin karena becanda2 itu, aku jadi … hmm… mulai tertarik untuk mengenal si N lebih jauh. I mean.. he’s cute, sepertinya lebih muda dari aku sih (baru2 ini aku tahu dia kelahiran 85.. 5 tahun di bawah), baik hati, cukup menyenangkan diajak ngobrol. Aku tidak banyak bertindak. kebetulan waktu itu dia aktif banget post2 gambar2 aneh/lucu, juga emotion report. Jadi aku cuma ‘like’ dan komen. Biasanya sih dia menanggapi, dan kemudian obrolan melebar lagi. Ketika weekend, kami sempat ngobrol cukup panjang berdua. Tumben2 si M tidak muncul karena biasanya malam minggu kami habiskan ngobrol bertiga (pathetic, isn’t it? >.<) Akhirnya aku tahu kalau mamanya sudah meninggal, dan sepertinya dia agak nakal ketika mamanya masih ada. Dia seperti merasa bersalah karena membuat mamanya sedih. Kami juga ngobrol hal2 ringan, becanda kiri kanan. Hingga minggu malam, setelah saling say goodnight, aku pun menyebut namanya dalam doa sebelum tidur.
Sungguh, aku belum jatuh cinta dengan dia. Tapi memang malam itu aku senang sekali bisa ngobrol dengan dia. Sudah jadi ‘kebiasaan’ (buruk)-ku, jika ada cowok yg aku merasa ok, aku langsung berkhayal bagaimana jika kami jadian dan menikah hehehehe. Dan sejak memutuskan untuk tidak mau lagi menangis gara2 patah hati, aku pun selalu bertanya ke Tuhan satu pertanyaan ini, “Father, is he the one? If he is, please bring us closer together, if he is not, please don’t let me broken heart.” Pertanyaan yg sama kupanjatkan malam itu untuk si N. Setelah itu aku tidur pulas.
Besoknya, dengan perasaan riang gembira, aku ke kantor. Sambil kerja aku membuka FB (hmm… sejujurnya sih terbalik
) Lalu, aku melihat foto yg dia upload ada di home-ku. Foto itu adalah foto anak laki2 kecil yg ganteng sedang meringis. Di judul foto itu si N menulis bahwa putranya (son) sudah besar, dan meminta putranya itu untuk tidak lupa memberi selamat hari ibu pada mamanya. Awalnya aku pikir dia bercanda karena N memang sering bercanda dengan foto2nya. Lalu aku baca komentar seorang temannya bertanya apakah benar itu anaknya, dan si N bilang YA. Aku.. shock.
Aku yakin aku belum jatuh cinta sama N, tapi saat itu seperti ada yg terlepas dari hatiku. Tidak sakit sih, tidak ingin menangis juga, cuma aku jadi murung. Rasanya ada yg hilang. Entah apa ini tepat, tapi aku merasa seperti layu sebelum berkembang. Aku belum cinta dia, tapi cinta itu sudah hilang. Mati. Apa itu mungkin?
Setelah shock-ku hilang, aku mulai bisa berpikir secara logis, menelaah perasaan aneh itu. Hasil analisaku (mungkin lebih tepat pembelaan diri) adalah.. yg hilang bukan cintaku, tapi harapanku. Harapan bahwa si N adalah The One. Dalam kondisiku sekarang, jatuh cinta bisa jadi muncul belakangan. Aku bisa saja mencintai pria manapun asal aku yakin bahwa ia memang jodohku. Tidak ada cukup waktu untuk membiarkan diriku jatuh cinta dulu lalu memutuskan dia jodohku atau tidak. Terlalu lama. Aku sudah… matang. Jadi perasaanku yg lalu itu adalah kecewa karena satu lagi jawaban TIDAK dari Tuhan, kandidatku hilang lagi. Aku harus bertanya2 lagi, harus cari lagi.
Tapi setelah kurenungkan, aku bersyukur Tuhan menjawab dengan cepat. Aku jadi tidak sampai jatuh cinta dengan N, tidak perlu capek2 menangis karena patah hati (lagi), dan tidak perlu menghabiskan waktu untuk menyembuhkan hati. Aku jadi ingat kata2 bijak:
Tuhan tidak selalu menjawab dengan YA. Terkadang Ia menjawab TIDAK. (Terkadang pula Ia menjawab TUNGGU DULU …. tapi yg ini kan sudah pasti TIDAK)
Dan aku percaya, Tuhan akan kasih aku yang Terbaik. Sementara itu, aku akan berusaha menjadi yg Terbaik buat dia. Siapa pun itu. Dimana pun ia berada. Yang pasti bukan N






